Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keperawatan. Tampilkan semua postingan

14 September, 2015

Tips on How to Eliminate Acne Naturally

1.       How to Treat Acne With Egg White
To do that, separate the egg yolks and egg whites only grab. Whisk briefly and then apply to face and let sit for 15 minutes. The egg white will help reduce oil on the face that often causes acne.
2.       How to Treat Acne Acne With Toothpaste
One thing to note here toothpaste used were shaped pasta not shaped gel, Do almost the same premises both of the above. Apply toothpaste to acne and other parts around the pimples before sleeping. Let sit overnight / until the morning and then rinse with clean water.
3.       How to Treat Acne With Tomato
Fruit of this one other than good for eye health is also quite effective at removing black comedones (blackheads). The first thing to do is slice the tomatoes in half and rub over the face with acne and leave for 15 minutes - 1 hour and then rinse. and eat for treatment of in.
4.       How to Treat Acne With Aloe Vera
Caution Do not use the native tongue of the mouth of the crocodile yes, he ,, Take aloe leaf, cut into several pieces, peel the outer skin, apply at the emerging pimples, and repeat doing it this way every morning and evening. If you are patient enough, acne may be able to dry up and flake off for 3 days. Additionally aloe vera is also capable of removing stubborn acne scars. Once again the key is only one, painstaking. !!
5.       Treating Acne With Garlic
There are two options in using garlic to get rid of acne. First with two or more mashing garlic until quite smooth and then applied to the facial acne. Let stand for 10 minutes then rinse. While the second way is by eating one or more of garlic every day. Many say this is quite efekktif both ways, but for those of you who do not like the smell of garlic might be better to resort to the other. Do not worry there are many other natural ways which I will explain below.
6.       Treating Acne With Cleaning Face
Always cleaning face daily hygiene care of dirt and dust on the road. For we are always active and dealing with road dust, diligent cleaning the face before or after activity. As consumption from the inside, then multiply eat vegetables and drink water.

The fruit-containing water can be an alternative in treating the face of the deep. Because the contained in fruits and vegetables are believed to make your face more clean and radiant. 

27 Oktober, 2011

Fibris (Demam)


A. Definsi
Demam (badan panas) ialah kenaikan suhu tubuh di atas normal (37ºC aksila; 37,2-37,5ºC rektal) (Markum, 1981).

B. Dasar
Demam adalah sebab tersering bagi orang tua untuk membawa anak ke dokter, suatu hal yang darurat. Orang tua pada umumnya mengira bahwa lebih tinggi suhu badan lebih berat penyakitnya, yang sebetulnya tidak benar.

Suhu di daerah dubur (temperatur rektal) paling mendekati suhu tubuh sebenarnya (core body temperature). Suhu di daerah mulut atau ketiak (aksila) sekitar 0,5 sampai 0,8 derajat lebih rendah dari suhu rectal, dengan catatan setelah pengukuran selama minimal 1 menit. Tidak dianjurkan mengukur (menebak) suhu tubuh berdasarkan perabaan tangan (tanpa menggunakan termometer).

Demam biasanya terjadi akibat tubuh terpapar infeksi mikroorganisme (virus, bakteri, parasit). Demam juga bisa disebabkan oleh faktor non infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lainnya. Ketika virus atau bakteri masuk ke dalam tubuh, berbagai jenis sel darah putih atau leukosit melepaskan “zat penyebab demam (pirogen endogen)” yang selanjutnya memicu produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior, yang kemudian meningkatkan nilai ambang temperature dan terjadilah demam. Selama demam, hipotalamus cermat mengendalikan kenaikan suhu sehingga suhu tubuh jarang sekali melebihi 41ºC.

C. Dampak Demam
1. Dampak Positif
Beberapa bukti penelitian “in-vitro” (tidak dilakukan langsung terhadap tubuh manusia) menunjukkan fungsi pertahan tubuh manusia bekerja baik pada temperature demam, dibandingkan suhu normal. Pirogen endogen lainnya akan “mengundang’ lebih banyak leukosit dan meningkatkan aktifitas mereka dalam menghambat  pertumbuhan mikroorganisme. Demam juga memicu pertambahan jumlah leukosit serta meningkatkan produksi/fungsi interferon (zat yang membantu leukosit memerangi mikroorganisme).

2. Dampak Negatif
a. Kemungkinan dehidrasi (kekurangan cairan tubuh). Ketika mengalami demam, terjadi peningkatan penguapan cairan tubuh sehingga anak bisa kekurangan cairan.
b. Kekurangan oksigen. Saat demam, nak dengan penyakit paru-paru atau penyakit jantung-kelainan pembuluh darah bisa mengalami kekurangan oksigen sehingga panyakit paru-paru atau kelainan jantungnya semakin berat.
c. Demam di atas 42ºC bisa menyebabkan kerusakan neurologis (saraf), meskipun sangat jarang terjadi. 
d. Anak di bawah usia 5 tahun (balita), terutama pada umur di antara 6 bulan sampai 3 tahun, berada dalam resiko kejang demam (febrile convulsion), khususnya pada temperature rectal di atas 40ºC. kejang demam biasanya hilang dengan sendirinya, dan tidak menyebabkan gangguan neurologis (kerusakan saraf).

D. Penatalaksanaan Demam
1. Pengobatan dengan Antipiretik
Mekanisme Kerja
Parasetamol, aspirin, dan obat anti inflamasi non steroid (OAINS) lainnya adalah antipiretik yang efektif. Bekerja dengan cara menghambat produksi prostaglandin E2 di hipotalamus anterior (yang meningkat sebagai respon adanya pirogen endogen).

a. Parasetamol
Parasetamol adalah obat pilihan pada anak-anak, dosisnya sebesar 10-15 mg/kg/kali. Parasetamol dikonjugasikan di hati menjadi turunan sulfat dan glukoronida, tetapi ada sebagian kecil dimetabolisme membentuk intermediet aril yang hepatotoksik (menjadi racun untuk hati) jika jumlah zat hepatotoksik ini melebihi kapasitas hati unutk memetabolismenya dengan glutation atau sulfidril lainnya (lebih dari 150 mg/kg). Maka sebaiknya tablet 500 mg tidak diberikan pada anak-anak (misalnya pemberian 3 kali tablet 500 mg dapat membahayakan bayi dengan berat badan di bawah 10 kg). Kemasan berupa sirup 60 ml lebih aman.

b. Aspirin
Merupakan antipiretik yang efektif namun penggunaannya pada nak dapat menimbulkan efek samping yang serius. Aspirin bersifat iritatif terhadap lambung sehingga meningkatkan resiko ulkus (luka) lambung, perdarahan, hingga perforasi (kebocoran akibat terbentuknya lubang di dinding lambung). Aspirin juga dapat menghambat aktifitas trombosit (berfungsi dalam pembekuan darah) sehingga dapat memicu resiko perdarahan. Pemberian aspirin pada anak dengan infeksi virus terbukti meningkatkan resiko Syndrom Reye, sebuah penyakit yang jarang (insidennya sampai tahun 1980 sebesar 1-2 per 100 ribu anak per tahun), yang ditandai dengan kerusakan hati dan ginjal. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk anak berusia < 16 tahun.

c. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) 
Jenis OAINS yang paling sering digunakan pada anak adalah ibuprofen. Dosis sebesar 5-10 mg/kg/kali mempunyai efektifitas antipiretik yang setara dengan aspirin atau parasetamol. Sama halnya dengan aspirin dan OAINS lainnya, ibuprofen bisa menyebabkan ulkus lambung, perdarahan, dan perforasi meskipun komplikasi ini jarang pada nak-anak. Ibuprofen juga tidak direkomendasikan untuk anak demam yang mengalami diare dengan atau tanpa muntah.

2. Terapi Suportif 
a. Upaya Suportif yang Direkomendasikan
1) Tingkatkan asupan cairan (ASI, susu, air, kuah sup, atau jus buah)
2) Hindari makanan berlemak atau yang sulit dicerna karena demam menurunkan aktivitas lambung.
3) Kenakan pakaian tipis dalam ruangan yang baik ventilasi udaranya.
4) Mengompres anak dengan air hangat. Umumnya mengompres dapat menurunkan demamnya dalam 30-45 menit.
b. Upaya Suportif yang Tidak Direkomendasikan
1) Mengompres dengan alkohol
2) Melepaskan pakaian anak

Jika nilai-ambang hipotalamus sudah direndahlan terlebih dahulu dengan obat, melepaskan pakaian anak atau mengompresnya dengan air dingin justru akan membuatnya menggigil (dan tidak nyaman), sebagai upaya tubuh dalam menjaga temperatur pusat berada  pada nilai-ambang yang telah disesuaikan. Selain itu alkohol dapat pula diserap melalui kulit, masuk ke dalam peredaran darah, dan adanya resiko toksisitas.

14 September, 2011

Pertumbuhan Fisik balita


Laporan global United Nations Children's Fund mengenai kemajuan dunia untuk gizi ibu dan anak tercatat bahwa Indonesia menempati urutan sebagai negara kelima di dunia dengan jumlah terbesar balita pendek atau terhambat pertumbuhannya yakni 7,8 juta anak balita pendek . Sejak terjadinya krisis multidimensi yang melanda Indonesia, hingga saat ini masalah gizi penduduk masih cukup memprihatinkan. Bahkan 75% dari total kabupaten di Indonesia berada dengan kondisi masalah gizi kurang pada balita di atas 20 persen. Hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan sumber daya manusia Indonesia ke depannya. Dampak krisis yang ditimbulkan gizi buruk menyebabkan biaya subsidi kesehatan semakin meningkat. Gizi buruk juga menyebabkan lebih dari separo kematian bayi, balita, dan ibu, serta Human Development Indeks (HDI) menjadi rendah.

Gangguan pertumbuhan atau kekurangan gizi pada balita terjadi bila konsumsi melalui makanan kurang. Dampaknya, tubuh balita akan mengalami keseimbangan negatif, berat badan akan kurang dari berat badan ideal. Dampak gizi buruk yang terparah pada balita adalah marasmus. Hal paling nampak terlebih dahulu adalah penampilan fisik yang mana berat badan tidak bertambah sesuai usianya. Pada kurang gizi, menyebabkan anak-anak kekurangan berat badan, pertumbuhannya lambat dan lebih rentan terhadap infeksi. Gizi kurang yang kronik, pada pemeriksaan berat dan tinggi badan akan menunjukkan bahwa mereka memiliki berat yang kurang pada grafik pertumbuhan, misalnya kerdil serta mempengaruhi perkembangan otak dan psikologi anak. Dampak lain dari pertumbuhan fisik balita yang terganggu antara lain anak akan mempunyai tinggi badan lebih pendek, perkembangan mental dan kecerdasan terhambat serta daya tahan tubuh anak menurun sehingga mudah terserang penyakit infeksi, yang semakin memperburuk keadaan gizi.

Pertumbuhan fisik balita berkaitan erat dengan gizi yang dikonsumsinya. status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Pertumbuhan dan perkembangan mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini, yaitu dari 0 sampai 5 tahun. Masa ini sering juga disebut sebagai fase ”Golden Age”. Golden age merupakan masa yang sangat penting untuk memperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila terjadi kelainan. Selain itu, penanganan kelainan yang sesuai pada masa golden age dapat meminimalisir kelainan pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga kelainan yang bersifat permanen dapat dicegah.

Standar acuan status gizi balita adalah Berat Badan menurut Umur (BB/U), Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Sementara klasifikasinya adalah normal, underweight (kurus), dan gemuk. Ditinjau dari tinggi badan, sebanyak 25,8 persen anak balita Indonesia pendek (SKRT, 2004). Ukuran tubuh yang pendek ini merupakan tanda kurang gizi yang berkepanjangan. Lebih jauh, kekurangan gizi dapat mempengaruhi perkembangan otak anak. Padahal, otak tumbuh selama masa balita. Fase cepat tumbuh otak berlangsung mulai dari janin usia 30 minggu sampai bayi 18 bulan.

Pakar gizi dunia mengembangkan indikator kurang gizi sebagai indikator kemiskinan dengan mengukur gangguan pertumbuhan berat badan anak balita. Proporsi anak balita yang kurang gizi atau berberat badan rendah ditetapkan sebagai salah satu indikator kemiskinan. Kemiskinan berkaitan erat dengan kurang gizi yang dicerminkan dengan adanya gangguan pertumbuhan fisik balita. Selain itu kurangnya pendidikan orang tua, khususnya ibu merupakan salah satu penyebab terjadi kekurangan gizi pada balita. Pendidikan orang tua merupakan faktor yang penting dalam tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik orang tua orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan balitanya. 

Di negara berkembang seperti  Indonesia, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan balita diantaranya adalah konsumsi makanan, penyakit infeksi, serta aspek-aspek lain seperti penyediaan makanan, ekonomi, pendidikan, budaya dan lain-lain. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. 

01 Juni, 2011

Jenis-jenis cairan Infus dan Fungsinya


INFUS
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian mikroba. ( Lachman, hal 1254 ).

Sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infus intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit, atau untuk memberi nutrisi. Infus intravena adalah sediaan parenteral dengan volume besar yang ditujukan untuk intravena. Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk pengganti cairan tubuh dan memberikan nutrisi tambahan, untuk mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obat lain.

Cairan infus intravena dikemas dalam bentuk dosis tunggal, dalam wadah plastik atau gelas, steril, bebas pirogen serta bebas partikel-partikel lain. Oleh karena volumenya yang besar, pengawet tidak pernah digunakan dalam infus intravena untuk menghindari toksisitas yang mungkin disebabkan oleh pengawet itu sendiri. Cairan infus intravena biasanya mengandung zat-zat seperti asam amino, dekstrosa, elektrolit dan vitamin.

Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

Persyaratan
  1. Sesuai kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada dalam sediaan; terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat perusakan obat secara kimia.
  2. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding wadah.
  3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. untuk itu, beberapa faktor yang paling banyak menentukan adalah:

a) bebas kuman

b) bebas pirogen

c) bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral

d) isotonis

e) isohidris

f) bebas bahan melayang

Keuntungan pemberian infus intravena adalah menghasilkan kerja obat yang cepat dibandingkan cara-cara pemberian lain dan tidak menyebabkan masalah terhadap absorbsi obat. Sedangkan kerugiannya yaitu obat yang diberikan sekali lewat intravena maka obat tidak dapat dikeluarkan dari sirkulasi seperti dapat dilakukan untuk obat bila diberikan per oral, misalnya dengan cara dimuntahkan

Pembahasan:
Infus tidak perlu pengawet karena volume sediaan besa. Jika ditambahkan pengawet maka jumlah pengawet yang dibutuhkan besar sehingga dapat menimbulkan efek toksis

INFUS IV Ca GLUKONAT / GLUKONAT
Dalam percobaan ini akan dibuat sediaan infus intravena kalsium glukonat yang merupakan larutan supersaturasi yang distabilkan dengan penambahan 35 mg kalsium D-saccharate, dan harus disimpan pada suhu kamar. Laju infus maksimum yang disarankan adalah 200 mg/menit.

Farmakologi :
Kalsium merupakan mineral yang penting untuk pemeliharaan kesempurnaan fungsi susunan saraf, otot, sistem rangka, dan permeabilitas membran sel. Kalsium adalah aktivator yang penting pada beberapa reaksi enzimatis dan berperan dalam proses fisiologi yang mencakup transmisi rangsangan oleh saraf, kontraksi jantung, otot polos dan otot rangka, fungsi renal, pernafasan dan koagulasi darah. Kalsium juga berperan dalam reaksi pelepasan dan penyimpanan neurotransmiter dan hormon, pengambilan dan pengikatan asam amino, absorbsi vitamin B12 dan sekresi asam lambung.

Farmakokinetik :
Injeksi garam kalsium langsung masuk kedalam pembuluh darah. Setelah diinjeksi, kalsium darah meningkat dengan cepat dan kembali turun dalam 30 menit sampai 2 jam, terdistribusi cepat dalam jaringan serta dieliminasi melalui urine.

INFUS IV DEKSTRAN
Kehilangan darah, sejauh jumlahnya tidak melampaui 10% dari jumlah total, tubuh masih dapat menyeimbangkannya kembali. Jika kehilangannya lebih besar, harus disuplai cairan pengganti darah untuk mengisi plasma melalui jalan infus ke dalam tubuh. Hal tersebut dibutuhkan juga pada syok perdarahan, akibat luka (kebakaran, luka dalam) pada sakit perut atau muntah yang berkepanjangan.

Infus dextran 70 merupakan larutan makromolekul yang memiliki waktu tinggal yang lebih panjang dalam pembuluh darah, karena tidak atau sedikit mengalami difusi, juga airnya terikat secara hidratasi. Yang menentukan dextran 70 sebagai bahan pengganti plasma adalah berat molekulnya diatas 20.000. Pengisisan volume darah dapat dilakukan dengan larutan NaCl fisiologis atau dengan larutan elektrolit, namun jumlah cairan yang dimasukkan tersebut hanya sebentar berada dalam peredaran darah, untuk kemudian segera dieliminasi keluar tubuh melalui ginjal

INFUS IV ELEKTROLIT UNTUK DEHIDRASI
Fungsi larutan elektrolit secara klinis digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma yang menyimpang, yaitu :

1. Asidosis
Kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah berlebih.

2. Alkalosis
Kondisi plasma yang terlampau basa akibat ion Na, K, Ca dalam jumlah berlebih

Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi, kekurangan HCO3 disebut asidosis, metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia. (Formulasi Steril, Stefanus Lukas, hal. 62)

Dehidrasi adalah hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnnya air. Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotic cairan tubuh akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup (Dorlan ed. 26, hal. 498)

Pada pasien yang tidak sadar atau mengalami gangguan keseimbangan elektrolit akut, sehingga harus segera diberikan ion-ion Ca2+, Na+, K+, Ce- dan HCO3-, dan sebagai sumber kalori dimana pengganti cairan dan kalori dibutuhkan, karena ion-ion tersebut dibutuhkan oleh tubuh untuk memnuhi kebutuhan elektrolit tubuh pada ekstrasel dan intrasel. Cairan ekstrasel baik plasma darah maupun cairan intrsel mengandung ion natrium dan klorida dalam jumlah yang besar, ion bilarbonat dalam jumlah yang agak besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion kalium, magnesium phospat, sulfat, dan asam organic.disamping itu plasma mengandung protein dalam jumlah yang besar, sedangkan cairan intrasel hanya mengandung protein dalm jumlah protein yang leih kecil.

Cairan intasel hanya mengandung sejumlah kecil ion natrium dan klorida serta hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi ia mengandung ion kalium dan phospat dalam jumlah besar serta ion magnesium dan sulfat dalam jumlah cukup besar, semuanya hanya ada dalam konsentrasi yang kecil dalam cairan ekstrasel.

Bahan-bahan yang digunakan (NaCl, KCl, NaHCO3, CaCl2) mudah larut dalam air, sehingga dapat digunakan air sebagai pembawanya. Air yang digunakan harus bebas pirogen. Pirogen merupakan produk metabolisme m.o (umumnya bakteri, kapang dan virus). Secara kimiawi, pirogen adalah zat lemak yang berhubungan dengan suatu molekul pembawa yang biasanya merupakan polisakarida, tapi bisa juga peptide.

Pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Pirogen dapat dihilangkan dari larutan dengan absorbsi menggunakan absorban pilihan. (Lachman, hal. 1295-1296). Ion-ion ini diberikan dalam bentuk injeksi iv karena diharapkan dapat segera memberikan efek.

INFUS IV GLUKOSA NaCl / GLUKOSA 10%
Pada umumnya larutan glukosa untuk injeksi digunakan sebagai pengganti kehilangan cairan tubuh, sehingga tubuh kita mempunyai energi kembali untuk melakukan metabolismenya dan juga sebagai sumber kalori. Dosis glukosa adalah 2,5-11,5 % (Martindale), pada umumnya digunakan 5 %. Dalam formula ini ditambahkan NaCl supaya diapat larutan yang isotonis, dimana glukosa disini bersifat hipotonis. Dalam pembuatan aqua p.i ditambahkan H2O2 yang dimaksudkan untuk menghilangkan pirogen, serta di dalam pembuatan formula ini ditambahkan norit untuk menghilangkan kelebihan H2O2.

INFUS IV MENGANDUNG Na, Ca, K
Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel.

Natrium klorida (NaCl), natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya. Sering digunakan dalam infus dengan elektrolit lain.

Equvalent elektrolit (Steril Dosage Form, hal 250) :
Na+ = 135 mEq
K+ = 5 mEq
Ca+ = 5 mEq
Mg+ = 2 mEq

Kesetaraan ekuivalen elektrolit (Martindale) :
1g NaCl ~ 17,1 mEq Na+ E1 = 1,00
1g KCl ~ 13,4 mEq K+ E1 = 0,76
1g CaCl ~ 13,6 mEq Ca+ E1 = 0,51
1g MgCl ~ 9,8 mEq Mg+ E1 = 0,45

INFUS IV NaCl
Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler dan memegang peranan penting pada regulasi tekanan osmotisnya, juga pada pembentukan perbedaan potensial ( listrik ) yang perlu bagi kontraksi otot dan penerusan impuls di syaraf.

Defisiensi natrium dapat terjadi akibat kerja fisik yang terlampau berat dengan banyak berkeringat dan banyak minum air tanpa tambahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual, muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang otot betis, kemudian juga kejang otot lengan dan perut.
Selain pada defisiensi Na, natrium juga digunakan dalam bilasan 0,9 % ( larutan garam fisiologis ) dan dalam infus dengan elektrolit lain.

INFUS IV PENGGANTI CAIRAN TUBUH
Air beserta unsur-unsur didalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel disebut cairan tubuh.
Cairan tubuh dibagi menjadi dua yaitu :
  1. Cairan Intraseluler, cairan ini mengandung sejumlah ion Na dan klorida serta hampir tidak mengandung ion kalsium, tetapi cairan ini mengandung ion kalium dan fosfat dalam jumlah besar serta ion Magnesium dan Sulfat dalam jumlah cukup besar.
  2. Cairan Ekstraseluler, cairan ini mengandung ion Natrium dan Klorida dalam jumlah besar, ion bikarbonat dalam jumlah besar, tetapi hanya sejumlah kecil ion Kalium, Kalsium, Magnesium, Posfat, Sulfat,dan asam-asam organik (Guyton hal 309).


Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl. Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dibuatlah sediaan infuse pengganti cairan tubuh yaitu infuse Ringers. Injeksi Ringer adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, dan Kalsium klorida dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh (Ansel hal 408).

INFUS IV PROTEIN UNTUK DBD
Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna. Indikasi cara ini biasanya digunakan untuk persiapan bedah pada penderita kurang gizi, persiapan kemoterapi radioterapi dan kelainan saluran cerna berat. Nutrisi parenteral total memerlukan larutan yang mengandung asam amino; glukosa; lemak; elektrolit; dan vitamin.

Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai, tapi bila tiap harinya diberikan lebih dari 180 g maka harus ada monitoring kadar gula darah. Bila mungkin diperlukan insulin. Glukosa dengan ragam kekuatan 10 – 50 % harus di infus melalui kateter vena central. Untuk menghindari trombosis (gumpalan darah yang terbentuk pembuluh darah).

Jumlah volume infuse intravena biasanya 500 mL dan 250 mL mengandung zat-zat sebagai nutrisi, penambah darah, elektrolit, asam amino, antibiotik, dan obat yang umumnya diberikan lewat jarum yang dibiarkan di vena atau kateter dengan diteteskan terus menerus. Tetesan atau kecepatan mengalir dapat diatur oleh dokter atau perawat sesuai dengan kebutuhan pasien. Umumnya 2-3 mL permenit.

Untuk Infus, intravena jarum/kateter biasanya ditusukkan divena yang menonjol di lengan atau kaki dan diikat erat di tempat tersebut sehingga tidak akan bergeser dari tempat selama diinfus. Bahaya utama infus intravena ialah kemungkinan terbentuknya trombus akibat rangsang tusukan jarum pada dinding vena.

Trombus akan lebih mungkin terjadi bila larutan infus bersifat mengiritasi jaringan tubuh. Trombus adalah gumpalan darah yang terbentuk dalam pembuluh darah (atau jantung) yang umumnya disebabkan oleh melambatnya aliran atau perubahan darah atau pembuluh darah. Bila gumpalan darah itu beredar maka gumpalan tersebut menjadi embolus, dibawa oleh aliran darah sampai tersangkut di pembuluh darah, menghalangi dan mengakibatkan hambatan atau sumbatan yang disebut emboli. Suatu hambatan dapat sangat berbahaya tergantung pada tempat dan keparahan hambatan tersebut. Obat-obat yang diberikan lewat intravena biasanya harus berupa larutan air, bercampur dengan darah dan tidak mengendap. Keadaan tertentu dapat menimbulkan terjadinya trombus dan kemudian menghalangi aliran darah. (Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi keempat, Howard C Ansel, hal 402)

Demam berdarah adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan virus Dengue tipe I-IV, disertai demam 5-7 hari gejala-gejala perdarahan, dan bila timbul syok: angka kematian cukup tinggi.

Gejala dan tanda :
  1. panas 5-7 hari, gejala umum tidak khas
  2. perdarahan spontan (petekie, ekimosa, epistaksis , derajat hematemesis, melena, perdarahan gusi, uterus, telinga, dll)
  3. ada gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (> 120/menit), tekanan nadi sempit (<>)
  4. nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur, denyut jantung > 140/menit, acral dingin, berkeringat, kulit biru


Gejala Lain :
  1. Hati membesar, nyeri spontan dan pada perabaan
  2. Asites
  3. Cairan dalam rongga pleura (kanan)
  4. Ensepalopati: kejang, gelisah, sopor, koma


Prinsip penatalaksanaan :
  1. Memperbaiki keadaan umum
  2. Mencegah keadaan yang lebih parah
  3. Memperbaiki syok dan perdarahan (pen: rehidrasi sampai hari ke 7, namun hati-hati pada hari ke 6 dapat terjadi arus balik cairan intersitiel ke pembuluh darah)


INFUS IV UNTUK MEMPERTAHANKAN KESEIMBANGAN ASAM TUBUH
Pembuatan infus ini mengacu pada penggunaannya sebagai cairan infus yang dapat menstabilkan jumlah elektrolit-elektrolit yang sama kadarnya dalam cairan fisiologis normal, sehingga diharapkan pasien dapat mempertahankan kondisi elektrolitnya agar sesuai dengan batas-batas atau jumlah elektrolit yang normal pada plasma. Selain itu, digunakan pengisotonis dekstrosa yang diharapkan mampu menambah kalori bagi pasien serta meningkatkan stamina karena biasanya kondisi pasien yang kekurangan elektrolit dalam keadaan lemas (sehingga perlu diinfus).

Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi.
Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel.
Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
Ion Magnesium (Mg2+) juga diperlukan tubuh untuk aktivitas neuromuskuler sebagai koenzim pada metabolisme karbohidrat dan protein.
Dekstrosa, suatu bentuk karbohidrat yang diberikan secara parenteral diharapkan dapat memberikan tambahan kalori yang diperlukan untuk menambah energi pada tubuh.

Batas konsentrasi normal elektrolit dalam plasma (Steril Dosage Form, hal 251-252) :
Na+ = 135-145 mEq/L
K+ = 3,5-5 mEq/L
Ca2+ = 5 mEq/L
Mg2+ = 2 mEq/L

INFUS IV UNTUK PENGELOLAAN DEHIDRASI
Sekitar 60% berat badan manusia terdiri dari cairan. Setiap hari sekitar 1,7 liter cairan di dalam tubuh keluar melalui urin, tinja, keringat dan pernapasan. Cairan yang keluar tersebut akan digantikan oleh cairan yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman, yakni sebanyak 3 liter perhari. Jika cairan yang keluar dai tubuh terjadi secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan cairan yang masuk, maka terjadilah dehidrasi (kekurangan cairan tubuh).

Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh, karena terjadi pengeluaran yang lebih banyak daripada pemasukan. Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh. Zat eletrolit yang diperlukan tubuh terdiri dari anion dan kation antara lain Na+, K+, Ca2+, SO42-, dan Cl-.

Dehidrasi terdiri dari :
  1. Absolut :Kandungan air dibawah normal atau dibawah standar.
  2. Hypenatermic : Keadaan hilangnya elektrolit lebih rendah secara disproporsional dibandingkan dengan hilangnya air.
  3. Relatif : Dehidrasi sebagai akibat meningkatnya tekanan osmotik cairan tubuh.
  4. Voluntari : Akibat dari rasa haus yang tidak merangsang penggantian air yang hilang dengan cukup.


INFUS MENGANDUNG KARBOHIDRAT
Karbohidrat merupakan bahan bakar utama (sumber energi) bagi tubuh yang didalam makanan terdapat sebagai monosakarida, disakarida dan polisakarida. Selain sumber energi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan asam-basa, pembentukan struktur sel, jaringan dan organ tubuh. Bilamana seorang penderita harus diberikan makanan yang memadai tetapi tidak dapat melalui saluran cerna atau mengalami gangguan saluran cerna seperti diare maka sumber energi utama yakni karbohidrat dapat diberikan melalui infus yang mengandung karbohdrat. Glukosa merupakan sumber karbohidrat yang lebih disukai dan salah satu senyawa yang penting didalam tubuh sebagai sumber energi.

INFUS Na BIKARBONAT UNTUK ASIDOSIS METABOLIK
Asidosis metabolic adalah suatu keadaan dimana pH arterial bersifat asam dan konsentrasi bikarbonat plasma dibawah normal. Pada asidosis metabolic akut, pH arterial dibawah 7,1-7,2 dan konsentrasi bikarbonat plasma, <8>

Farmakologi
Na.bikarbonat merupakan agen pengalkali yang berdisosiasi membentuk ion bikarbonat. Bikarbonat merupakan komponen basa konjugasi dari buffer ekstraseluler utama yang ada di tubuh,yaitu buffer bikarbonat-asam karbonat. Pada kondisi normal buffer ini menjaga pH plasma yaitu 7,37-7,42. Namun bila terjadi gangguan pada system buffer ini maka pH plasma dapat naik ataupun turun. pH plasma yang dibawah normal mengindikasikan terjadinya asidosis metabolic. Pemberian Na.bikarbonat akan menigkatkan konsentrasi bikarbonat plasma dan meningkatkan pH plasma sehingga pH plasma normal kembali (DI 2003 hal 2472-2473).

INFUS PROTEIN
Protein merupakan makromolekul yang pada hidrolisa hanya menghasilkan asam amino. Sel hidup menghasilkan berbagai macam makromolekul (protein, asam nukleat dan polisakarida) yang berfungsi sebagai komponen struktural, biokatalisator, hormon, reseptor dan sebagai tempat penyimpanan informasi genetik. Makromolekul ini merupakan biopolimer yang dibentuk dari unit monomer atau bahan pembangun.

Asam amino dibagi menjadi dua bagian yaitu:
  1. Asam amino essensial yaitu asam amino yang diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat disintesis dalam tubuh sehingga harus diperoleh dari luar. Contoh : Arginin, histidin, isoleusin, lisin, metionin, fenil alanin, treonin, triptofan, dan valin.
  2. Asam amino non essensial yaitu asam amino yang dapat disintesa didalam tubuh. Contoh: Alanin, asparagin, asam aspartat, sistein, asam glutamate, glutamin, glisin, prolin, hidroksiprolin, serin, dan tirosin.

Arginin mempunyai fungsi yang sama seperti asam amino, yaitu meningkatkan stimulan hormon pertumbuhan, prolaktin, dan glukosa darah. Arginin dapat menambah konsentrasi glukosa darah. Efek ini dapat langsung berpengaruh dari hati menjadi asam amino yang berkualitas.(DI hal 1341)

INFUS IV DEKSTROSA
Farmakologi (DI, hal 1427)
Dekstrosa dengan mudah dimetabolisme, dapat meningkatkan kadar glukosa darah dan menambah kalori. Dekstrosa dapat menurunkan atau mengurangi protein tubuh dan kehilangan nitrogen, meningkatkan pembentukan glikogen dan mengurangi atau mencegah ketosis jika diberikan dosis yang cukup. Dekstrosa dimetabolisme menjadi CO2 dan air, maka larutan dekstrosa dan air dapat mengganti cairan tubuh yang hilang. Injeksi dekstrosa dapat juga digunakan sebagai diuresis dan volume pemberian tergantung kondisi klinis pasien.

LARUTAN PENCUCI PADA OPERASI LAMBUNG
Larutan irigasi adalah larutan steril, bebas pyrogen yang digunakan untuk tujuan pencucian dan pembilasan. Sodium Klorida ( NaCl ) secara umum digunakan untuk irigasi ( seperti irigasi pada rongga tubuh, jaringan atau luka ). Larutan irigasi NaCl hipotonis 0,45% dapat digunakan sendiri atau tanpa penambahan bahan tambahan lain. Larutan irigasi NaCl 0,9% dapat digunakan untuk mengatasi iritasi pada luka. ( DI 2003 hal 2555 )

Larutan irigasi dimaksudkan untuk mencuci dan merendam luka atau lubang operasi, sterilisasi pada sediaan ini sangat penting karena cairan tersebut langsung berhubungan dengan cairan dan jaringan tubuh yang merupakan tempat infeksi dapat terjadi dengan mudah.( Ansel hal 399 )

INFUS PENDERITA DIARE BERAT
(LOCKE RINGER)
Locke – Ringer mengandung zat-zat yang dibutuhkan tubuh yaitu elektrolit-elektrolit dan karbohidrat sesuai untuk penderita diare berat. Digunakan norit, yaitu untuk menyerap pirogen dan mengurangi kelebihan H2O2. Cara sterilisasi yang digunakan adalah dengan teknik otoklaf karena bahan-bahan yang digunakan tahan panas

Pembahasan : hipertonis (harap diperhatikan laju tetesan per menit)

INFUS UNTUK PENGELOLAAN METABOLIK ALKALOSIS
Alkalosis metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Alkaosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut)

Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bia kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah.

Penyebab utama alkalosis metabolik :
  1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)
  2. Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung
  3. Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid).


Gejala :
  1. Alkalosis metabolik dapat menyebabkan iritabilitas (mudah tersinggung), otot berkedut dan kejang otot, atau tanpa gejala sama sekali.
  2. Bila terjadi alkalosis yang berat, dapat terjadi kontraksi (pengerutan) dan spasme (kejang) otot yang berkepanjangan (tetani).
  3. Diagnosa dilakukan pemeriksaan darah arteri untuk menunjukkan darah dalam keadaan basa.

Pengobatan :
Biasanya alkalosis metabolik diatasi dengan pemberian cairan dan elektrolit (natrium dan kalium)

INFUS LARUTAN IRIGASI GLISIN
Larutan irigasi adalah sediaan larutan steril dalam jumlah besr. Larutan tidak disuntikkan ke dalam vena, tapi digunakan di luar sistem peredaran darah dan umumnya menggunakan jenis tutup yang diputar atau plastik yang dipatahkan, sehingga memungkinkan pengisian larutan dengan cepat. Larutan ini digunakan untuk merendam atau mencuci luka2. Sayatan bedah atau jaringan tubuh dan dapat pula mengurangi pendarahan.

Persyaratan larutan irigasi adalah sbb :
  1. Isotonik
  2. Steril
  3. Tidak disbsorpsi
  4. bukan larutan elektrolit
  5. Tidak mengalami metabolisme
  6. Cepat diekskresi
  7. Mempunyai tekanan osmotik diuretik
  8. bebas pirogen

Larutan irigasi glisin digunakan selama operasi kelenjar prostat dan prosedur transuretral lainnya. Larutan yg digunakan untuk luka dan kateter uretra yg mengenai jaringan tubuh hrs disterilkan dgn cara aseptis.

INFUS IV YG MGD NUTRISI
Glukosa termasuk monosakarida dimana sebagian besar monosakarida dibawa oleh aliran darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses sintetis menghasilkan glikogen, oksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk dibawa dengan aliran darah ke bagian tubuh yg memerlukannya. Sebagian lain monosakarida dibawa langsung ke sel jaringan organ tertentu dan mengalami proses metabolisme lbh lanjut. Karena pengaruh berbagai faktor dan hormon insulin yg dihasilkan oleh kelnjar pankreas, hati dapat mengatur kadar glukosa dalam darah. Kadar glukosa dalam darah merupakan faktor yg sgt penting utk kelancaran kerja tubuh.

INFUS IV RINGER LAKTAT
Jika untuk mengatasi kondisi kekurangan volume darah, larutan natrium klorida 0,9% - 1,0% menjadi kehilangan maka secara terapeutik sebaiknya digunakan larutan ringer, larutan ini mengandung KCl dan CaCl2 disamping NaCl. Beberapa larutan modifikasi jg mengandung NaHCO3 maka larutan dapat disterilakan dengan panas yang stabil. Pengautoklafan larutan natrium hidrogen karbonat hanya diproses mempunyai penyaringan kuman.
Pembahasan : larutan ini bersifat hipertonis. Harap diperhatikan laju tetesan per menit. Laju tetesan maksimal 5 ml per menit

INFUS IV AMMONIUM KLORIDA
(PENDAHULUANNYA SAMA DENGAN ALKALOSIS METABOLIK)
Ammonium klorida digunakan sebagai z.a yang dapat berkhasiat untuk pengobatan gangguan metabolisme alkalosis dalam tubuh serta menggantikan ion klorida yang hilang dalam tubuh.

INFUS IV MENGANDUNG ELEKTROLIT DAN KARBOHIDRAT
Walaupun cairan infus intravena yang diinginkan adalah larutan yang isotonis untuk meminimalisasi trauma pada pembuluh darah, namun cairan hipotonis maupun hipertonis dapat digunakan. Untuk meminimalisasi iritasi pembuluh darah, larutan hipertonis diberikan dalam kecepatan yang lambat.

27 April, 2011

Prasyarat Pemberian Makanan Tambahan ASI


Pemberian  Makanan  Tambahan   ASI   (MPASI)   akan   berkontribusi  pada perkembangan  optimal seorang anak bila dilakukan secara tepat. Sebagai panduan pemberian  MPASI  Organisasi  Kesehatan  Dunia  (WHO)  mensyaratkan empat  hal berikut ini:
  1. Saat   yang   tepat   Pemberian   makanan  pada   bayi   merupakan  upaya pengenalan  bertahap,  mulai  dari  makanan  murni  cair  (ASI),  makanan lunak (bubur susu), kemudian makanan lembek (tim saring), agak kasar, hingga  makanan  padat  (makanan  orang  dewasa)  pada  usia  di  atas  12 bulan. Pemberian yang terlalu dini akan mengganggu penyerapan zat gizi. Sebaliknya, pengenalan yang terlambat akan meningkatkan risiko kesulitan makan pada anak di fase berikutnya. Informasi mengenai waktu pengenalan  makanan  yang  dianjurkan  bisa  diperoleh  tidak  hanya  dari tenaga  kesehatan,  tapi  juga  dari  internet,  majalah  dan  buku  mengenai pemberian makan pada anak, serta informasi yang tercantum pada KMS.
  2. Adekuat (mencukupi). Makanan yang diberikan harus mengandung kalori, protein, dan mikronutrien (zat besi, vitamin A, dan lain-lain) yang cukup. Secara  sederhana,  ini  berarti  memberikan  makanan  yang  tidak  hanya sekedar mengenyangkan anak, tetapi  secara seimbang juga memberikan kecukupan  zat  gizi  lain  untuk  pertumbuhan  dan   perkembangannya. Misalnya pemberian nasi dan kerupuk saja, walaupun secara kalori tidak berkekurangan  dan  tidak  akan  membuat  seseorang  lapar,  namun  nilai gizinya  perlu  dipertanyakan  karena  asupan  protein  dan  mikronutrien terabaikan.
  3. Bersih dan Aman. Pemilihan bahan makanan maupun cara pengolahannya penting untuk menjamin nutrisi yang baik bagi anak.
  4. Suasana psikososial yang menyenangkan. Perlu diingat bahwa pemberian makan pada  anak bukan hanya untuk memberikan asupan nutrisi, tetapi juga merupakan bentuk kasih sayang. Di samping itu pengenalan beragam jenis makanan baik bentuk, tekstur, bau, dan rasa adalah bagian dari upaya memberikan stimulasi/rangsangan pada anak. Lebih jauh lagi, kemampuan makan adalah bagian dari tahapan perkembangan seorang anak, sehingga dapat  dikatakan  bahwa  pengenalan  dan  pola  pemberian  makan  adalah suatu proses pembelajaran. Dengan makan, anak belajar mengunyah serta mengulum,  juga  mengenal aroma dan rasa. Oleh karena fungsi makan tidak   sesederhana   memberikan   asupan   nutrisi   saja,   dan   kegagalan pemberian  makanan   bisa  berdampak  buruk  di  kemudian  hari,  maka suasana psikososial yang  menyenangkan mutlak diperlukan oleh seorang anak  pada  waktu  makan.  Dengan  kata  lain,  waktu  pemberian  makan sebaiknya   tidak  menjadi  waktu  yang  ”menegangkan”  bagi  ibu  atau pengasuh dan anak (Lely, 2005)


Makanan Tambahan - MPASI


Definisi Makanan Tambahan
Makanan  tambahan  ASI  adalah  makanan  yang  diberikan  kepada  bayi/anak disamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP-ASI diberikan mulai umur 6-24  bulan  dan  merupakan  makanan  peralihan  dari  ASI  ke  makanan  keluarga. Pengenalan dan  pemberian MP-ASI harus dilakukan secara bertahap  baik  bentuk maupun jumlah. Hal ini  dimaksudkan untuk menyesuaikan kemampuan alat cerna bayi dalam menerima MP-ASI (Depkes RI, 2004).

Makanan tambahan adalah makanan untuk bayi selain ASI atau susu botol, sebagai  penambah kekurangan  ASI  atau  susu  pengganti (PASI)  (Husaini,  2001). Pemberian  makanan  tambahan  adalah  memberi  makanan  lain  selain  ASI  untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi dengan jumlah yang didapat dari ASI (Rosidah, 2004).

Makanan tambahan berarti memberi makanan lain selain ASI dimana selama periode  pemberian  makanan  tambahan  seorang  bayi  terbiasa  memakan  makanan keluarga. MP-ASI merupakan proses transisi dari asupan yang semata berbasis susu menuju ke makanan yang semi padat. Untuk proses ini juga dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral berkembang dari refleks menghisap menjadi menelan makanan yang berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah bagian depan ke lidah bagian belakang. Pengenalan dan  pemberian MP-ASI harus  dilakukan  secara  bertahap  baik  bentuk  maupun  jumlahnya,  sesuai  dengan kemampuan  pencernaan  bayi/anak.  Pemberian  MP-ASI  yang  cukup  dalam  hal kualitas   dan   kuantitas   penting untuk pertumbuhan fisik dan   perkembangan kecerdasan anak yang bertambah pesat pada periode ini (Ariani, 2008).

Jenis Makanan Tambahan
Cara  memberikan  makanan  tambahan  bagi  bayi  adalah  dari  makanan  itu berbentuk cairan dan kental lalu bertahap menjadi keras, seiring dengan proses dan umur juga perkembangan  bayi, sehingga usus bayi pun terlatih dengan sendirinya terhadap makanan yang diterimanya. Adapun jenis-jenis makanan tambahan (Chintia,2008) :
  1. Makanan lunak yaitu semua makanan yang termasuk yang disajikan dalam bentuk halus dan diberikan pada bayi yang pertama kali.misalnya bubur susu dan sari buah.
  2. Makanan lembek yaitu makanan peralihan dari makanan lunak kemakanan biasa seperti nasi tim.
  3. Makanan  biasa  yaitu  makanan  yang  termasuk  yang  disajikan  adalah makanan orang dewasa seperti nasi.

Selain itu makanan yang dibuat sendiri di rumah dengan cara memodifikasi makanan  keluarga  yang  kaya  energi dan  nutrien.  Makanan tambahan  dapat  juga berupa makanan yang setengah jadi yang dijual di toko-toko yang merupakan produk hasil teknologi yang  komposisi  zat-zat  gizi  yang didalamnya disesuaikan dengan kebutuhan bayi terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan bayi (Suhardjo,1999).

Makanan padat pertama yang diberikan kepada anak haruslah mudah dicerna. Dan bukanlah  makanan yang mempunyai risiko alergi yang tinggi. Jangan tergiur untuk menambahkan gula atau garam pada makanan bayi. Biarkan rasanya hambar, biarkan  anak  merasakan  rasa  asli  dari   makanan  tersebut  karena  garam  dapat mengancam ginjal bayi. Sementara gula dapat membuat  bayi anda kelak menyukai makanan manis, sehingga dapat merusak giginya (Luluk, 2005).

Makanan Tambahan Yang Baik
Makanan tambahan yang baik adalah makanan yang kaya energi, protein dan mikronutrien  (terutama zat besi, zink, kalsium, vitamin A, vitamin C dan fosfat), bersih  dan  aman,  tidak  ada  bahan  kimia  yang  berbahaya  atau  toksin,  tidak  ada potongan tulang atau bagian yang keras yang  membuat bayi tersedak, tidak terlalu panas, tidak pedas atau asin, mudah dimakan bayi, disukai bayi, mudah disiapkan dan harga terjangkau (Rosidah, 2004).

Waktu yang Tepat Memberikan Makanan Tambahan
Air Susu Ibu (ASI) memenuhi seluruh kebutuhan bayi terhadap zat-zat gizi yaitu untuk pertumbuhan dan kesehatan sampai berumur enam bulan, sesudah itu ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan bayi. Makanan tambahan mulai diberikan umur enam  bulan  satu  hari.  Pada  usia  ini  otot  dan  saraf  didalam  mulut  bayi  cukup berkembang untuk  mengunyah,  menggigit,  menelan  makanan dengan baik,  mulai tumbuh gigi, suka memasukkan sesuatu kedalam mulutnya dan  berminat terhadap rasa yang baru (Rosidah, 2004).

Adapun waktu yang baik dalam memulai pemberian makanan tambahan pada bayi adalah umur 6 bulan. Pemberian makanan tambahan pada bayi sebelum umur tersebut akan menimbulkan risiko sebagai berikut (Ariani, 2008) :
  1. Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan saat ini. Makanan tersebut dapat menggantikan ASI, jika makanan diberikan maka anak akan minum  ASI  lebih  sedikit  dan  ibu  pun  memproduksinya  lebih  sedikit sehingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
  2. Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit sehingga risiko infeksi meningkat.
  3. Risiko  diare  juga  meningkat  karena  makanan tambahan tidak  sebersih ASI.
  4. Makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI sering encer, buburnya berkuah  atau  berupa  sup  karena  mudah  dimakan  bayi,  makanan  ini memang membuat lambung penuh tetapi memberikan nutrient sedikit.
  5. Ibu mempunyai risiko lebih tinggi untuk hamil kembali.

Akibat dari kurang menyusui dan risiko pemberian makanan tambahan terlalu lambat :
a.   Anak tidak mendapat makanan ekstra yang dibutuhkan mengisi kesenjangan energi dan nutrient.
b.   Anak berhenti pertumbuhannya atau tumbuh lambat.
c.   Pada anak risiko malnutrisi dan deficiency mikro nutrient meningkat.

Manfaat dan Tujuan Pemberian Makanan Tambahan
Makanan tambahan ASI bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak, penyesuaian   kemampuan  alat  cerna  dalam  menerima  makanan  tambahan  dan merupakan masa peralihan  dari ASI ke makanan keluarga selain untuk memenuhi kebutuhan bayi terhadap zat-zat gizi (Suhardjo, 1999). Tujuan pemberian  makanan tambahan adalah untuk  mencapai pertumbuhan perkembangan  yang  optimal,  menghindari  terjadinya  kekurangan  gizi,  mencegah risiko malnutrisi, defisiensi mikronutrien (zat besi, zink, kalsium, vitamin A, Vitamin C  dan  folat),  anak  mendapat  makanan  ekstra  yang  dibutuhkan  untuk  mengisi kesenjangan  energi  dengan  nutrien,  memelihara  kesehatan,  mencegah  penyakit, memulihkan   bila   sakit,  membantu  perkembangan  jasmani,  rohani,  psikomotor, mendidik kebiasaan yang  baik  tentang makanan dan memperkenalkan bermacam- macam bahan makanan yang sesuai dengan keadaan fisiologis bayi (Husaini, 2001).

Pemberian makanan tambahan merupakan suatu proses pendidikan, bayi diajar mengunyah  dan  menelan  makanan  padat,  jika  makanan  tidak  diberi  pada  saat kepandaian  mengunyah  sedang  muncul,  maka  mengajar  kepandaian  ini  dimasa berikutnya akan lebih sukar. Pengenalan pemberian makanan lebih mudah sebelum gigi  keluar,  gusi  bayi  bengkak  dan  sakit  maka  akan  sulit  memberikan  makanan tambahan (Suhardjo, 1999).

Indikator bahwa bayi siap untuk menerima makanan padat : kemampuan bayi untuk   mempertahankan  kepalanya  untuk  tegak  tanpa  disangga,  menghilangnya refleks menjulurkan  lidah, bayi mampu menunjukkan keinginannya pada makanan dengan cara membuka mulut, lalu  memajukan anggota tubuhnya ke depan untuk menunjukkan rasa lapar, dan menarik tubuh ke belakang atau membuang muka untuk menunjukkan ketertarikan pada makanan (Ariani, 2008).

Risiko  Pemberian  Makanan  Tambahan  pada  Usia  Kurang  dari  Enam Bulan
Risiko  pemberian  makanan  tambahan  pada  usia  kurang  dari  enam  bulan berbahaya  karena belum memerlukan makanan tambahan pada  saat  usia ini,  jika diberikan  makanan  tambahan  akan  dapat  menggantikan  ASI  dimana  bayi  akan minum ASI lebih sedikit dan ibu memproduksinya akan berkurang maka kebutuhan nutrisi bayi tidak terpenuhi dan faktor-faktor pelindung dari ASI menjadi sedikit, sehingga kemungkinan terjadi risiko infeksi meningkat (Rosidah, 2004).

Makanan  tambahan   yang   dibuat   sendiri   atau   buatan  pabrik   cenderung mengandung  kadar  natrium klorida  (NaCl)  tinggi  akan  menambah  beban  ginjal. Belum   matangnya   sistem   kekebalan   dari  usus   bayi   pada   umur   dini,   dapat menyebabkan  alergi  terhadap  makanan  tambahan,  komponen-komponen  alamiah yang terdapat dalam makanan tambahan seperti gula dapat menyebabkan kebusukan pada gigi dan gangguan pencernaan pada bayi serta kegemukan

Alasan Menunda Pemberian MPASI
Sebelumnya MPASI umur 4 bulan sudah diberi makanan tambahan, bahkan ada yang umur  1 bulan. Dan banyak yang berpendapat tidak ada masalah dengan anaknya.  Satu  hal  yang  perlu  diketahui  bersama  bahwa  zaman  terus  berubah. Demikian juga dengan ilmu dan teknologi. Ilmu  medis juga terus berkembang dan berubah berdasarkan riset-riset yang terus dilakukan oleh para peneliti. Sekitar lebih dari 5 tahun yang lalu, MPASI disarankan diperkenalkan pada anak saat ia berusia 4 bulan.  Tetapi  kemudian  beberapa  penelitian  tahun-tahun  terakhir  menghasilkan banyak hal sehingga MPASI sebaiknya diberikan setelah 6 bulan (Luluk, 2005).

Alasan  anak  umur  6  bulan  merupakan  saat  terbaik  anak  mulai  diberikan MPASI karena :
  1. Pemberian makan setelah bayi berumur 6 bulan memberikan perlindungan ekstra dan besar dari berbagai penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun bayi kurang dari 6 bulan belum sempurna. Pemberian MPASI dini sama saja dengan  membuka pintu  gerbang  masuknya  berbagai jenis  kuman. Belum lagi jika tidak disajikan higienis. Hasil riset terakhir dari peneliti di Indonesia menunjukkan  bahwa bayi yang mendapatkan MPASI sebelum ia berumur 6 bulan, lebih banyak  terserang diare, sembelit, batuk-pilek, dan panas dibandingkan bayi  yang  hanya  mendapatkan ASI  eksklusif. Belum lagi penelitian dari badan kesehatan dunia lainnya.
  2. Saat bayi berumur 6 bulan ke atas, sistem pencernaannya sudah relatif sempurna dan  siap menerima MPASI. Beberapa enzim pemecah protein spt asam lambung, pepsin,  lipase, enzim amilase, dan sebagainya baru akan diproduksi sempurna pada saat ia berumur 6 bulan.
  3. Mengurangi risiko terkena alergi pada makanan saat bayi berumur kurang dari 6 bulan,  karena sel-sel di sekitar usus belum siap untuk kandungan dari makanan, sehingga makanan yang masuk dapat menyebabkan reaksi imun dan terjadi alergi.
  4. Menunda pemberian MPASI hingga 6 bulan melindungi bayi dari obesitas di kemudian hari. Dikarenakan proses pemecahan sari-sari makanan yang belum sempurna (Luluk, 2005).

Banyak  sekali alasan kenapa orang tua memberikan MPASI kurang  dari 6 bulan.  Umumnya banyak ibu yang beranggapan kalau anaknya kelaparan dan akan tidur  nyenyak  jika   diberi  makan.  Meski  tidak  ada  relevansinya  banyak  yang beranggapan ini benar. Karena belum sempur na, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras untuk mengolah dan memecah makanan.  Kadang anak yang menangis terus dianggap sebagai anak tidak kenyang. Padahal menangis bukan  semata-mata tanda anak lapar. Alasan lainnya bisa jadi juga tekanan dari lingkungan dan tidak ada dukungan seperti alasan di atas, dan gencarnya promosi produsen makanan bayi yang belum mengindahkan ASI eksklusif 6 bulan (Ade, 2007).

Definisi Dukun Bayi


Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki ketrampilan menolong persalinan secara tradisional, dan memperoleh ketrampilan tersebut dengan : secara turun temurun, belajar secara praktis, atau cara lain yang menjurus ke arah peningkatan ketrampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan (Depkes RI, 1994: 1). Di Indonesia persalinan dukun sebesar 75% sampai 80% terutama di daerah pedesaan. Pertolongan persalinan oleh dukun menimbulkan berbagai masalah dan penyebab utama tingginya angka kematian dan kesakitan ibu dan perinatal. Dapat dipahami bahwa dukun tidak dapat mengetahui tanda-tanda bahaya perjalanan persalinan (Manuaba,1998).

1) Dukun terlatih
Dukun terlatih adalah dukun yang telah mendapatkan latihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus. (Syafrudin, 2007: 184). 

2) Dukun tidak terlatih
Dukun tidak terlatih adalah dukun bayi yang belum pernah dilatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus. Peranan dukun beranak sulit ditiadakan karena masih mendapat kepercayaan masyarakat dan tenaga terlatih yang masih belum mencukupi. Dukun beranak masih dapat dimanfaatkan untuk ikut serta memberikan pertolongan persalinan (Manuaba, 1998: 21).

Batas kewenangan dukun dalam melakukan pertolongan persalinan menurut Depkes RI (1994: 14) adalah sebagai berikut :
  1. Mempersiapkan pertolongan persalinan meliputi mempersiapkan tempat, kebutuhan ibu dan kebutuhan bayi, mempersiapkan alat-alat persalinan sederhana secara bersih, mencuci tangan sebatas siku dengan sempurna (10 menit).
  2. Memimpin persalinan normal dengan teknik-teknik sederhana yang meliputi membimbing ibu mengejan, menahan perineum, merawat tali pusat, memeriksa kelengkapan placenta.
  3. Dukun tidak melakukan tindakan yang dilarang seperti memijat perut serta mendorong rahim, menarik plasenta, memasukkan tangan ke dalam liang senggama.
  4. Melakukan perawatan pada bayi baru lahir yang meliputi perawatan mata, mulut dan hidung bayi baru lahir, perawatan tali pusat dan memandikan bayi.

Kemungkinan dampak tersering dari persalinan yang ditolong oleh dukun baik bagi ibu maupun bayinya adalah perdarahan post partum, persalinan lama, ruptur uteri, kematian janin dalam rahim, asfiksia dan infeksi neonatus (Manuaba, 1998: 19)
Peran dukun dalam pertolongan persalinan dalam Pedoman Kemitraan Bidan dengan Dukun (2009) adalah sebagai berikut :
a) Mengantar calon ibu bersalin ke Bidan
b) Mengingatkan keluarga menyiapkan alat transportasi untuk pergi ke bidan / memanggil bidan
c) Mempersiapkan sarana prasarana persalinan aman seperti :
1. Air bersih
2. Kain bersih
d) Mendampingi ibu pada saat persalinan
e) Membantu Bidan pada saat proses persalinan
f) Melakukan ritual keagamaan/tradisional yang sehat yang sesuai tradisi setempat
g) Membantu bidan dalam perawatan bayi baru lahir
h) Membantu ibu dalam inisiasi menyusui dini kurang dari 1 jam
i) Memotivasi rujukan jika diperlukan
j) Membantu bidan membersihkan ibu, tempat dan alat setelah persalinan

26 April, 2011

Teknik Memijat Bayi Prematur


Menurut Roesli (2001) mengatakan  setiap gerakan dikerjakan 2 x 5 detik dan diulang enam (6) kali pada setiap bagian. 

Urutan pijat bayi prematur
a.   Member i rangsangan raba (tactile stimuli) selama lima (5) menit
1)  Bayi dalam posisi ditengkurapkan
2)  Tiap gerakan dilakukan dalam waktu 2 x 5 detik
3)  Tiap gerakan diulang enam(6) kali
4)  Diker jakan selama lima (5) menit

  • Kepala :  dengan  menggunakan  kedua telapak  tangan,  usap kepala dari  puncak kepala sampai leher, kemudian kemba li lagi ke puncak kepala
  • Bahu  :  dengan  dua  jari  tangan  kanan  dan  kiri  usap  kedua belah  bahu   bayi  dari  pertengahan  punggung  ke  pangkal lengan, kemudian kembali ke pertangahan punggung
  • Punggung : dengan dua jar i kedua tangan usaplah leher ke pantat, lalu ke leher
  • Kaki : dengan dua jari kedua tangan usaplah : 1) Kedua kaki secara bersamaan 2) Kedua  pangkal  paha  ke  pergelangan  kaki,  kemudian kembali lagi ke pangkal paha

e)  Lengan : dengan dua jari kedua tangan usaplah :
 1) Kedua lengan secara bersamaan
2) Dari  pangkal  bahu  ke  pergelangan  tangan,  kemudian kembali pangkal bahu.

b.  Member i rangsangan kenistetik (kenistetic stimuli) selama (5) menit
1)  Bayi dalam keadaan ditelentangkan
2)  Tiap gerakan dilakukan dalam waktu 2 x 5 detik
3)  Tiap gerakan diulang enam (6) kali
4)  Diker jakan selama lima (5) menit

a)  Lengan : enam (6) gerakan pada tiap lengan
1) Diker jakan satu per satu
2) Pegang lengan pada pergelangan kaki, kemudian tekuk di daerah lutut dan pinggul

b)  Kaki : enam (6) gerakan tiap kaki
1) Diker jakan satu per satu
2) Pegang  daerah  pergelangan  kaki,  kemudian  tekuk  di daerah lutut dan pinggul

c)  Kaki : enam (6) gerakan
1) Diker jakan pada kedua kaki secara bersamaan
2) Pegang  daerah  pergelangan  kaki,  kemudian  tekuk  di daerah lutut
3) Tekan kedua kaki ke arah perut.

Pijat bayi


Defenisi P ijat Bayi
Pijat  bayi  adalah  seni  perawatan  kesehatan  dan  pengobatan  yang dikenal sejak awal manusia diciptakan di dunia serta telah dipraktikkan sejak berabad-abad  tahun silam secara turun temurun oleh dukun ba yi (Roesli, 2001, hlm.2). Pemijatan adalah teknik relaksasi yang lembut dan jarang menyebabkan efek samping (Trans, 2001, dalam Hizkia, 2007 hlm. 8). Lain lagi di cina yang mempunyai sejar ah panjang tentang pengobatan  .  Pijat  bayi  merupakan  salah  satu  teknik  perawatan  ba yi yang  sangat  khusus,  biasanya  untuk  merawat  bayi  yang  sakit  perut, sembelit, atau kembung  setelah banyak minum. Titik tekan pengobatan pada bayi berbeda dengan orang dewasa yang membuat pijatan itu lebih efektif (Prasetyono, 2009, hlm.18)

Manfaat Pijat Bayi
Menurut   Roesli   (2001,   hlm.7)   manfaat   pijat   bayi   adalah:   (a) Meningkatkan berat badan; (b) Meningkatkan pertumbuhan; (c) Meningkatkan  daya  tahan  tubuh;  (d)  Meningkatkan  konsentrasi  ba yi dan memuat  bayi tidur  lebih  lelap; (e) Membina  ikatan kasih sayang orang tua dan anak; (f) Meningkatkan produksi ASI. Menurut Gichara (2006, hlm. 55) mengatakan, Ada dua aspek dala m tubuh bayi yang dipengaruhi ketika pemijatan berlangsung, yaitu aspek emosional dan fisik.
  1. Aspek emosional tersebut meliputi: (1) Menanamkan rasa percaya dir i, bebas  dan aman, dan seimbang; (2) Menanamkan kepercayaan antara orang tua dan  anak; (3) Menguatkan hubungan antara orang tua dan anak serta member ikan  percaya dir i dalam mengurus anak- anaknya;  (4)  Mengurangi  hormon  kortisol  (pemicu  stres)  dala m aliran  darah  atau  menjaga  kestabilannya  selama   pemijatan;  (5) Merangsang produksi hormon endokrin (pereda rasa sakit) sehingga menimbulkan rasa nyaman pada bayi; (6) Menjaga kedekatan antara orang   tua   dan   bayi   lewat   kontak   fisik,   seperti   kontak   mata, mencium, membelai lembut, mengusap dan mengajaknya berbicara.
  2. Aspek fisik meliputi: (1) Melancarkan pencernaan dan pembuangan sehingga bayi terangsang untuk menyusui dengan baik; (2) Menghindari sembelit, kolik dan diare.; (3) Meningkatkan pertumbuhan  dan  perkembangan  bayi;  (4)  Meningkatkan  hormon- hormon  pertumbuhan  yang  dihasilkan  oleh  kelenjar  pituitari;  (5) Melancarkan  aliran  darah  dalam  tubuh  sehingga  timbullah  rasa hangat  pada   tangan  dan  kaki;  (6)  Merileksasikan  otot-otot  dan melenturkan  persendian   terutama  saat  bayi  meregangkan tubuh untuk memulai lebih banyak gerakan fisiknya; (7) Membantu menghilangkan sel-sel   mati dan membuang racun-racun tubuh melalui kulit; (8) Melancarkan pernafasan seperti:  mengurangi lendir,  mengatasi  batuk,  flu,  infeksi  pada  telinga,  dan  gangguan pada hidung.

Sedangkan  menurut  prasetyono  (2009)  selain  manfaat utama di atas yang dapat dirasakan secara langsung oleh ibu dan bayi, pijat bayi juga dapat  member ikan keuntungan tambahan seperti dala m beberapa  keadaan tertentu,  misalnya:  (a)  Pasangan  menikah  dini;  (b) Orang  yang  kurang  tertarik  pada  bayinya;  (c)  Orang  tua  angkat;  (d) Bedah caesar; (e) Sakit perut; (f) Gangguan  pernafasan; (g) Janin dar i ibu pecandu narkoba; (h) Bayi dari ibu penderita HIV;  (i)  Bayi yang dirawat di Rumah Sakit; (j) Bayi lahir prematur Roesli (2001, hlm.14) pijat pada bayi prematur akan member ikan dampak positif berikut ini: (1) Meningkatkan berat badan bayi 47% per hari lebih banyak; (2) Bayi dapat pulang dari rumah sakit 6-10 hari lebih cepat; (3) Penghematan biaya $ 10.000.00 per bayi; (4) Bayi  tampak  lebih  aktif  dan  siaga  serta  tidur  lebih  lelap;  (5)  Lebih sedikit  terjadi  serangan  apnoe  (pernafasan  berhenti)  dan  bradycardia (detak jantung melemah).

Kapan Bayi Dipijat
Bayi  dapat  dipijat  setelah  bayi  lahir.  Semakin  cepat  bayi  dipijat akan  semakin  besar  manfaatnya  terlebih  bila  dilakukan  setiap  har i sampai bayi berumur 6-7 bulan (Gichara, 2006). Sebaiknya pemijatan dilakukan pagi harisebelum mandi, bisa juga malam  hari  sebelum  bayi  tidur,  karena  aktivitas  bayi  sepanjang  har i yang   cukup   melelahkan.   Tindakan  pijat   dikurangi  seir ing   dengan bertambahnya usia bayi. Sejak usia  enam bulan, pijat  dua hari sekali sudah memadai (Prasetyono, 2009, hlm. 45). Menurut Gichara (2006, hlm 57) pijat bayi dilakukan pada: (a) Saat tidur; (b) Saat menyusui; (c) Saat menangis menurut   prasetyono(2009,   hlm.46),   mengatakan  berikut   hal-ha l yang   perlu   diperhatikan   ketika   hendak   memijat   bayi:   (a)   Jangan memijat  segera  setelah   bayi  selesai  makan;  (b)  Jangan  sekali-kali membangunkan bayi hanya untuk dipijat; (c) Jangan memijat bayi yang tidak  sehat  atau  tak  mau  dpijat;  (d)  Jangan  memaksakan  posisi pijat tertentu  pada  bayi;  (e)  Jangan  memaksa  bayi  untuk   dipijat,  tetapi lakukan dengan gembira dan menyenangkan; (f) Jangan  menggunakan balsam atau minyak tawon untuk pemijatan, tetapi sebaiknya digubanakan baby oil  ; (g) Persiapkn dulu  perlengkapan bayi  seperti handuk, popok, baju ganti, dan baby oil atau baby lotion; (h) Gunakan perlak  atau  alas  yang  mempunyai per mukaan  yang  rata,  lembut,  dan bersih  untuk  membaringkan  bayi;  ( i)  Pilihlah  ruangan  yang  nyaman, hangat dan tidak pengap untuk kegiatan ini. Lakukan secara menggebirakan bagi anda maupun dibayi.

Efek Samping Pemijatan
Pemijatan adalah teknik relaksasi yang lembut dan jarang menyebabkan efek samping. Namun bila pemijatan  dilakukan terlalu dalam, dapat menyebabkan perdarahan pada organ vital seperti hati dengan adanya  pembentukan penumpukan darah (Subakti, 2008).

Ruptur Perineum


Pengertian
Perineum merupakan bagian permukaan dari pintu bawah panggul yang terletak dari vulva dan anus. Perineum terdiri dari otot dan fascia urogenitalis serta diafragma pelvis. Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan  maupun dengan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah  dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. Robekan terjadi pada hampir semua primipara (Wiknjosastro, 2005, hlm 665).

Klasifikasi
Jenis robekan perineum berdasarkan luasnya adalah sebagai berikut:
  1. Derajat satu: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum
  2. Derajat dua: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum dan otot-otot perineum
  3. Derajat tiga: robekan ini terjadi pada mukosa vagina, vulva bagian depan, kulit perineum, otot-otot perineum, dan sfingter ani eksterna
  4. Derajat  empat:  robekan  dapat  terjadi  pada  seluruh  perineum  dan sfingter ani yang meluas sampai ke mukosa (Soepardiman, 2006).

Terjadinya ruptur perineum disebabkan oleh faktor ibu (jumlah paritas, jarak  kelahiran,  berat  badan  bayi),  pimpinan  persalinan  tidak  sebagaimana semestinya, riwayat  persalian, ekstraksi cunam, ekstraksi vacum, trauma alat dan episiotomi (Wiknjosastro, 2005, hlm 665).

Faktor-Faktor Terjadinya Ruptur Perineum
Terjadinya ruptur perineum disebabkan oleh faktor ibu sendiri (  yang mencakup  paritas, jarak kelahiran, dan berat badan lahir), riwayat persalinan yang mencakup ekstraksi vacum, ekstraksi cunam, episiotomi.
a.Paritas
Paritas adalah  jumlah anak  yang  dilahirkan oleh seorang  ibu baik hidup maupun mati. Paritas mempunyai pengaruh terhadap kejadian ruptur perineum. Pada ibu dengan paritas satu atau ibu primipara memiliki resiko lebih besar untuk mengalami robekan perineum daripada ibu dengan paritas lebih dari satu. Hal ini dikarenakan jalan  lahir yang belum pernah dilalui oleh kepala bayi sehingga otot-otot perineum belum meregang. (Wiknjosastro, 2002).

b.Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran adalah rentang waktu antara kelahiran anak sekarang dengan kelahiran anak sebelumnya. Jarak  kelahiran kurang dari dua tahun tergolong  resiko   tinggi  karena  dapat   menimbulkan  komplikasi  pada persalinan. Jarak kelahiran 2-3 tahun merupakan jarak kelahiran yang lebih aman  bagi ibu dan janin. Begitu  juga  dengan keadaan jalan  lahir  yang mungkin pada persalinan terdahulu mengalami  robekan  perineum derajat tiga  atau  empat,  sehingga  pemulihan  belum  sempurna  dan  robekan perineum dapat terjadi (Depkes, 2004).

c.Berat Badan Bayi
Berat badan janin dapat mengakibatkan terjadinya ruptur perineum yaitu berat  badan janin lebih dari 3500 gram, karena resiko trauma partus melalui vagina seperti distosia bahu dan kerusakan jaringan lunak pada ibu. Perkiraan berat janin bergantung pada pemeriksaan klinik atau ultrasonografi. Pada masa kehamilan hendaknya terlebih dahulu mengukur tafsiran berat badan janin.

Episiotomi


Pengertian
Episiotomi  adalah  perobekan  yang  dibuat  di  perineum  antara  lubang vagina dan anus untuk mempermudah keluarnya bayi. Perobekan ini dilakukan dengan gunting bius lokal ketika kepala bayi tampak. Jika dilakukan terlalu dini sebelum kelangkang menipis, otot-otot,  kulit dan pembuluh-pembuluh darah akan rusak dan perdarahan bisa lebih banyak. Episotomi ini menimbulkan luka memar, bengkak dan lambat sembuhnya, serta  menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman setelah dilakukan episotomi. Kemungkinan  menyatunya dasar panggul juga bisa terganggu jika serat-serat otot   perineum  dijahit   terlalu   ketat,   seorang  perempuan  bisa   merasakan ketidaknyamanan ketika melakukan hubungan seks (Stoppard, 2007, hlm.316). Episiotomi adalah inisiasi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina, cincin himen, jaringan septum rektovaginal, otot-otot dan  fasia  perineum,  serta  kulit  sebelah  depan  perineum  untuk melebarkan  jalan  lahir  sehingga  mempermudah  kelahiran (Mansjoer,  et  all, 2001)

Waktu  yang  tepat  untuk  melakukan tindakan  ini saat  puncak  his dan mengejan, perineum sudah menipis, lingkaran kepala pada perineum sekitar 5 cm. Episiotomi yaitu tindakan bedah ringan berupa irisan di daerah perineum antara lubang kemaluan dan lubang anus (Indiarti, 2009).

Jenis-Jenis Episiotomi
Untuk  melancarkan  jalannya  persalinan,  dapat  dilakukan  insisi  pada perineum pada saat kepala tampak dari luar dan mulai meregangkan perineum. Menurut Liu (2008, hlm. 129) jenis-jenis insisi pada perineum ada 3, yaitu:
  1. Insisi medial,  Insisi  medial  yang  dibuat  pada  bidang  anatomis  dan  cukup nyaman.   Terdapat lebih sedikit perdarahan   dan   mudah   untuk diperbaiki.  Akan  tetapi,  aksesnya  terbatas  dan  insisi  memberikan resiko perluasan ke rektum, sehingga insisi ini hanya digunakan oleh individu yang berpengalaman. Keuntungan dari episiotomi medialis ini adalah perdarahan yang timbul  dari  luka  episiotomi  lebih  sedikit  oleh  karena  merupakan daerah  yang  relatif  sedikit  mengandung  pembuluh  darah.  Sayatan bersifat  simetris  dan  anatomis  sehingga  penjahitan  kembali  lebih mudah dan penyembuhan lebih memuaskan. Kerugian dari episiotomi medialis ini adalah dapat terjadi ruptur perineum   tingkat III inkomplet (laserasi musculus sfingter ani) atau komplet (laserasi dinding rectum)
  2. Insisi Lateral, Sayatan disini dilakuka n kearah lateral mulai dari kira-kira jam 3 atau jam 9  menurut  arah jarum jam. Jenis episiotomi ini sekarang tidak dilakukan lagi, oleh  karena banyak menimbulkan komplikasi. Luka sayatan dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pudental  interna,  sehingga  dapat   menimbulkan   rasa  nyeri  yang mengganggu penderita.
  3. Insisi mediolateral, Insisi ini aman, mudah untuk dilakukan sehingga paling sering digunakan. Guntingan harus dimulai pada titik tengah lipatan kulit tipis di  belakang  vulva  dan  diarahkan  ke  tuberositas  iskial  ke  bantalan iskiorektal.
  4. Insisi berbentuk J, Jenis insisi ini memiliki keuntungan insisi medial dan memberikan akses yang  lebih baik daripada pendekatan mediolateral. Insisi lateral dibuat tangensial ke arah bagian anus yang bewarna coklat.
Alasan Dilakukan Episiotomi
Menurut Stoppard (2007 episiotomi diperlukan jika:
  1. Perineum tidak  bisa meregang secara perlahan.,  latihan pernafasan dan pemijatan akan membantu.
  2. Kepala bayi mungkin telalu besar untuk lubang vagina
  3. Ibu tidak dapat mengontrol keinginan mengejan sehingga ibu berhenti mengejan   ketika   justru   diperlukan   secara   bertahap   dan   halus. Episiotomi akan cepat  mengeluarkan bayi, jika sang ibu mengalami kesulitan untk mengontrol keinginan mengejan pada tahap kedua
  4. Bayi tertekan
  5. Persalinan dilakukan dengan forcep (ekstraksi bayi pada kepalanya dari jalan kelahiran)
  6. Bayi sungsang

Fungsi Episiotomi
  1. Episiotomi  membuat  luka  yang  lurus  dengan  pinggir  yang  tajam, sedangkan  ruptura perinii yang spontan bersifat luka koyak dengan dinding luka bergerigi.
  2. Luka lurus dan tajam lebih mudah dijahit. c.   Mengurangi tekanan kepala bayi.
  3. Mempersingkat kala II.
  4. Mengurangi kemungkinan terjadinya ruptur perineum totalis.

Saat  kepala  bayi  mulai  terdorong  oleh  kontraksi  ibu  keluar  melalui pembukaan, obat bius mulai disuntikkan ke bagian perineum ibu (bagian antara anus  dan   vagina).   Potongan  dilakukan  sepanjang   antara  5  sampai  7,5 centimeter.  Setelah  bayi  lahir  dan  ari-ari  juga  telah  keluar,  maka  sayatan tersebut akan dijahit kembali.

Episiotomi dilakukan untuk mencegah robekan vagina lebih besar dan tak beraturan selama kelahiran. Sayatan ini akan sembuh kembali (meski memakan waktu).   Pembukaan   dan   robekan  tidak   terkendali  dimungkinkan  karena peregangan yang tidak perlu karena kontraksi yang tak terkontrol. Robekan tak terkendali tersebut dapat berakibat pada:
  1. Urinary incontinence, di mana ibu tidak mampu menahan buang air kecil 
  2. Prolapsed bladder, kantong kemih turun menuju dinding vagina
  3. Prolapsed rectum, kantong air besar turun menuju vagina.

Episiotomi dapat menghindari masalah tersebut.

Fans Page